Rabu, 09 November 2016

Mungkinkah kita bangsa yang sedang sakit?

    


Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang dan maha Pemberi Ampunan.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wa bihi nasta'iinu 'alaa umuuriddunya waddiin, wash shalatu was salamu 'alaa asyrafil anbiyai wal mursalin, wa 'ala aalihi wa ash-habihi ajma'in, amma ba'du

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh

Para Alim Ulama Muslimin wal Muslimat rohimukumullah.

Ramai jagat Indonesia perihal seorang anak bangsa Indonesia yang bernama Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok, atas ucapannya, “… dibohongi pakai Al Maidah 51” menimbulkan polemik berkepanjangan. Berawal dari postingan Mustofa Nara di akun twitternya tgl 5 Oktober 2016, dilanjut dengan postingan di facebook oleh Buni Yani yang ditambahi dengan transkrip yang ada pengurangan kata dan narasi tambahan.

Bak gayung bersambut, isyu itu mencuat dan menjadi isyu Nasional bahkan Internasional. “PENISTAAN AGAMA DAN ULAMA”

Kelompok Ormas-Ormas Islam yang menyuarakan kemarahan yang mengatasnamakan Musli seluruh Indonesia bergema dan bergaung seantero negeri. Dan Ahok dianggap sebagai satu-satunya musuh Islam nomor wahid di negeri ini dan sebagian kelompok Islam Internasional yang punya hubungan erat Ormas-ormas Islam yang marah itu.

Kilas balik rentetan peristiwa sebelum-sebelumnya yang terjadi, menjadi mata rantai tak terpisahkan. Ahok yang Wakil Gubernur DKI dan kemudian diangkat menjadi Gubernur DKI setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden RI 2014 – 2019.  Dan sikap politik Ahok yang keluar dari Partai Politik yang mengusungnya menjadi Wagub kala itu yaitu Gerindra, menimbulkan polemik antara partai Gerindra dengan Ahok. Ahok dianggap berkhianat.

Penolakan pengangkatan Ahok sebagai Gubernur DKI kemudian bermunculan, dengan berbagai isyu yang muncul di permukaan,  Ahok dianggap bermulut kasar dan arogan. Ditambah lagi kebijakan pemerintahan DKI yang dipimpinnya berseteru dengan para anggota DPRD DKI. Kesempatan para pejabat pemprov maupun DPRD untuk melakukan kegiatan praktek kecurangan sungguh dihambat oleh Ahok. Dari kasus APBD ataupun realisasi pengadaan proyek-proyek Pemprov DKI.

Sudah berapa banyak pejabat Pemprov korban kebijakan Ahok yang distaffkan, dipecat bahkan mendekam dalam terali besi.

Bahkan beberapa anggaran untuk Bantuan Sosial ke beberapa Ormas yang dianggap tidak perlu dipangkas dan dihapus. Ahok memang kejam dalam kebijakan dan intoleran dalam sikapnya terhadap kecurangan. Dan DKI belum siap dengan reformasi mental seperti itu.

Penolakan-penolakan Ahok sebagai Gubernur makin gencar, bahkan FPI dan Gerindra  selalu setia dengan demonya demi menjatuhkan legitimasi Ahok dan menuntut mundurnya Ahok.  Sampai mengangkat Gubernur Tandingan, Fahrurozi Ishaq. Suatu langkah  yang tentu bagi sebagian orang adalah dagelan semata.

Penolakan selanjutnya dengan mengangkat isyu dan berharap Ahok mendapat proses hokum atas kebijakan dalam pemerintahan Prov DKI.  Seperti Kasus Pengadaan Bus Trans Jakarta, Kasus Pembelian Lahan RS Sumber Waras, Kasus Reklamasi yang akhirnya menjebloskan M Sanusi Anggota DPRD Gerindra sebagai pesakitan.

Semua langkah penolakan Ahok gagal total.

Hingga akhirnya ditemukan formula yang tepat yaitu isyu SARA, Ras dan Agama dibangun opini penolakan, tentang haramnya Pemimpin Kafir, Ahok sebagai antek Aseng Ahok sebagai kepanjangan tangan Pengembang dll.

Berbagai Masjid , majelis taklim disuguhi ajakan Penolakan AHok sebagai Gubernur, Spanduk-spanduk. Pamlet Tolak Ahok Pemimpin Kafir bertebaran dimana-mana. Bahkan kegiatan demo penolakan pemimpin Kafir makin sering terjadi.

Hingga akhirnya pada pencalonan Ahok yang melalui jalur independen dan akhirnya didukung para partai tidak bias membendung untuk majunya kembali Ahok dikancah pesta Demokrasi Pilgub DKI 2017.

Penolakan makin sering terjadi oleh para Ormas dan tokoh politik yang jengah akan Ahok.

Singkatnya, kasus “Penistaan Agama” yang dituduhkan ke Ahok adalah bukan barang baru. Itu merupakan kelanjutan upaya menjegal Ahok dalam kancah Pilkada DKI 2017.

Meskipun Ahok sudah meminta maaf dan mnegklarifikasi bahwa tidak ada keniatan untuk melakukan penistaan Agama, itu tidak berlaku.


Memang,  melupakan sekaligus memaafkan  kesalahan orang lain termasuk  perbuatan yang sangat berat. Seolah-olah pekerjaan memindahkan sebuah gunung  dan  bukit. Apalagi dibumbui dengan berbagai kepentingan politik. Sepertinya  mudah di ucapkan tapi tidak semua orang mampu melakukan dengan ikhlas.

Namun kita tetap di tuntut untuk memaafkannya,  terlebih  ketika dia sudah meminta maaf kepada kita .

Mengapa demikian?  Bukankah kita  ketika berbuat salah juga ingin dimaafkan? Karena itu maafkanlah dia .

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah  bersabda :

“Barangsiapa yang didatangi  saudaranya yang hendak meminta maaf ,hendaklah memaafkannya,apakah ia berada dipihak  yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal  tersebut (memaafkan) , niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)

“Barangsiapa senang  melihat bangunannya  dimuliakan, derjatnya di tingkatkan , maka hendaklah dia mengampuni  orang yang bersalah kepadanya, dan menyambung (menghubungi) orang yang pernah  memutuskan hubungannya dengan dia “ (HR Al-Hakim)

“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara panggilan, “Manakah  orang-orang yang suka mengampuni dosa  sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim  jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR  Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)

Fudail bin Iyad berkata : “Jiwa kesatria ialah  memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”
  
Sementara itu, kalau ia belum mau taubat dan minta maaf, maka doakanlah agar suatu saat dia menyadari akan kesalahan yang dia lakukan dan bertaubat atasnya,Kalau kita tidak mau memafkannya sama artinya kita membiarkannya  menanggung dosa dan berjalan menuju  ke  neraka. Jika demikian alangkah naifnya kelak kita di hadapan  Allah.

Janganlah kita bersikukuh untuk enggan memaafkan orang lain, karena akan menyebabkan dosa kita tidak pernah diampuni oleh Nya. Bukankah ini merupakan kerugian besar  yang menimpa seseorang?!

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS An-Nuur :22)

“Barangsiapa yang tidak mau memberi ampun  kepada orang, maka ia tidak akan di beri ampun “ (HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah Ra)

Mari kita belajar dari sifat pemaaf Allah kepada  para hamba Nya yang telah membunuh para wali-NYA.  Sifat pemaaf Rasulullah pada umat yang menyakitinya. Teladan para sahabat RA yang  mau berlapang dada kepada saudaranya yang telah menyinggung perasaannya.


Ucapkanlah ucapan kasih sayang  padanya :
“Pada hari ini tidak ada cercaan kepada kamu , mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) ,dan DIA adalah Maha Penyayang diantara Penyayang.”  ( QS Yusuf  ;92)

Inilah ucapan Nabi Yusuf  AS kepada saudaranya, ketika mereka minta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu

 Tapi mereka itu para ahli agama dan para ahli tafsir agama, tak bergeming untuk memaafkan Ahok.  Bahkan dengan lantangnya dikumandangkan kata-kata “Ganyang Ahok, Penjarakan Ahok, Bunuh Ahok”

Dan mereka para “Ulama” membawa kemarahan dalam bentuk Aksi Demo, Demo Bela Islam jilid I dan yang baru saja terjadi Demo Bela Islam jilid II 4 Nivember 2016 dan akan dilanjutkan dengan Demo Bela Islam jilid III nanti pada 25 November 2016.

Kini kasus dugaan Penistaan Ahok sedang diproses oleh aparat penegak hukum kita, tentu dengan polemik [ula, digelar perkara terbuka salah, tertutup salah.
Dan tuntutan para “Ulama” itu, Ahok harus salah dan dipenjara. (Sehingga gagal maju di Pilkada?)
Bahkan yang lebih aneh lagi, tuntutannya melebar ke Bpk. Jokowi untuk turun dari jabatan Presiden RI. Bahkan para alim Ulama yang ingin menjernihkan suasana dianggap Ulama yang sesat dan sakit Iman.

Saya kira bangsa kita sedang sakit Mental.

Semoga kita bisa mawas diri, bahwa segala yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah semata, kita meyakin Qodho dan Qodar Nya. Segala sesuatu ada hikmahnya.

Semoga para alim Ulama yang sesungguhnya yang dihujat dan dinista karena meluruskan sesuatu yang dianggap salah Allah memberi barokah dan limpahan Rahmat.

Semoga kita tidak tergolong kaum yang buruk, Ummat yang Su’ dimata Allah, meskipun dipandang buruk oleh para pendengki.

Kiranya demikian apa yang saya rasakan sebagai anak bangsa yang tidak ingin Negeri nya selalu gaduh dan ditunggangi berbagai kepentingan politik.

Wallahu a’lam bishowab


Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh

Jakarta, 9 Nov 2016





Nano Setiyono (Ketua Fikiran Kerukunan Raudhatul Islam Jakarta)