Dengan
menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang dan maha Pemberi
Ampunan.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wa bihi nasta'iinu 'alaa umuuriddunya waddiin, wash shalatu was salamu 'alaa asyrafil anbiyai wal mursalin, wa 'ala aalihi wa ash-habihi ajma'in, amma ba'du
Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wabarakatuh
Para Alim Ulama Muslimin wal Muslimat rohimukumullah.
Ramai jagat Indonesia perihal seorang anak
bangsa Indonesia yang bernama Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok, atas ucapannya,
“… dibohongi pakai Al Maidah 51” menimbulkan polemik berkepanjangan. Berawal
dari postingan Mustofa Nara di akun twitternya tgl 5 Oktober 2016, dilanjut
dengan postingan di facebook oleh Buni Yani yang ditambahi dengan transkrip
yang ada pengurangan kata dan narasi tambahan.
Bak gayung bersambut, isyu itu mencuat dan menjadi isyu Nasional bahkan Internasional. “PENISTAAN AGAMA DAN ULAMA”
Kelompok Ormas-Ormas Islam yang menyuarakan
kemarahan yang mengatasnamakan Musli seluruh Indonesia bergema dan bergaung
seantero negeri. Dan Ahok dianggap sebagai satu-satunya musuh Islam nomor wahid
di negeri ini dan sebagian kelompok Islam Internasional yang punya hubungan erat
Ormas-ormas Islam yang marah itu.
Kilas balik rentetan peristiwa
sebelum-sebelumnya yang terjadi, menjadi mata rantai tak terpisahkan. Ahok yang
Wakil Gubernur DKI dan kemudian diangkat menjadi Gubernur DKI setelah Jokowi
terpilih menjadi Presiden RI 2014 – 2019.
Dan sikap politik Ahok yang keluar dari Partai Politik yang mengusungnya
menjadi Wagub kala itu yaitu Gerindra, menimbulkan polemik antara partai
Gerindra dengan Ahok. Ahok dianggap berkhianat.
Penolakan pengangkatan Ahok sebagai Gubernur DKI kemudian bermunculan, dengan berbagai isyu yang muncul di permukaan, Ahok dianggap bermulut kasar dan arogan. Ditambah lagi kebijakan pemerintahan DKI yang dipimpinnya berseteru dengan para anggota DPRD DKI. Kesempatan para pejabat pemprov maupun DPRD untuk melakukan kegiatan praktek kecurangan sungguh dihambat oleh Ahok. Dari kasus APBD ataupun realisasi pengadaan proyek-proyek Pemprov DKI.
Penolakan pengangkatan Ahok sebagai Gubernur DKI kemudian bermunculan, dengan berbagai isyu yang muncul di permukaan, Ahok dianggap bermulut kasar dan arogan. Ditambah lagi kebijakan pemerintahan DKI yang dipimpinnya berseteru dengan para anggota DPRD DKI. Kesempatan para pejabat pemprov maupun DPRD untuk melakukan kegiatan praktek kecurangan sungguh dihambat oleh Ahok. Dari kasus APBD ataupun realisasi pengadaan proyek-proyek Pemprov DKI.
Sudah berapa banyak pejabat Pemprov korban kebijakan
Ahok yang distaffkan, dipecat bahkan mendekam dalam terali besi.
Bahkan beberapa anggaran untuk Bantuan Sosial
ke beberapa Ormas yang dianggap tidak perlu dipangkas dan dihapus. Ahok memang
kejam dalam kebijakan dan intoleran dalam sikapnya terhadap kecurangan. Dan DKI
belum siap dengan reformasi mental seperti itu.
Penolakan-penolakan Ahok sebagai Gubernur
makin gencar, bahkan FPI dan Gerindra selalu setia dengan demonya demi menjatuhkan
legitimasi Ahok dan menuntut mundurnya Ahok.
Sampai mengangkat Gubernur Tandingan, Fahrurozi Ishaq. Suatu
langkah yang tentu bagi sebagian orang
adalah dagelan semata.
Penolakan selanjutnya dengan mengangkat isyu dan
berharap Ahok mendapat proses hokum atas kebijakan dalam pemerintahan Prov DKI.
Seperti Kasus Pengadaan Bus Trans
Jakarta, Kasus Pembelian Lahan RS Sumber Waras, Kasus Reklamasi yang akhirnya
menjebloskan M Sanusi Anggota DPRD Gerindra sebagai pesakitan.
Semua langkah penolakan Ahok gagal total.
Hingga akhirnya ditemukan formula yang tepat
yaitu isyu SARA, Ras dan Agama dibangun opini penolakan, tentang haramnya
Pemimpin Kafir, Ahok sebagai antek Aseng Ahok sebagai kepanjangan tangan
Pengembang dll.
Berbagai Masjid , majelis taklim disuguhi
ajakan Penolakan AHok sebagai Gubernur, Spanduk-spanduk. Pamlet Tolak Ahok
Pemimpin Kafir bertebaran dimana-mana. Bahkan kegiatan demo penolakan pemimpin
Kafir makin sering terjadi.
Hingga akhirnya pada pencalonan Ahok yang
melalui jalur independen dan akhirnya didukung para partai tidak bias membendung
untuk majunya kembali Ahok dikancah pesta Demokrasi Pilgub DKI 2017.
Penolakan makin sering terjadi oleh para
Ormas dan tokoh politik yang jengah akan Ahok.
Singkatnya, kasus “Penistaan Agama” yang dituduhkan
ke Ahok adalah bukan barang baru. Itu merupakan kelanjutan upaya menjegal Ahok
dalam kancah Pilkada DKI 2017.
Meskipun Ahok sudah meminta maaf dan mnegklarifikasi bahwa tidak ada keniatan untuk melakukan penistaan Agama, itu tidak berlaku.
Memang, melupakan sekaligus memaafkan kesalahan orang lain termasuk perbuatan yang sangat berat. Seolah-olah pekerjaan memindahkan sebuah gunung dan bukit. Apalagi dibumbui dengan berbagai kepentingan politik. Sepertinya mudah di ucapkan tapi tidak semua orang mampu melakukan dengan ikhlas.
Namun kita tetap di tuntut untuk
memaafkannya, terlebih ketika dia sudah meminta maaf kepada kita .
Mengapa demikian? Bukankah kita
ketika berbuat salah juga ingin dimaafkan? Karena itu maafkanlah dia .
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah
bersabda :
“Barangsiapa yang didatangi saudaranya
yang hendak meminta maaf ,hendaklah memaafkannya,apakah ia berada dipihak
yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan)
, niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)
“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu
membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)
“Barangsiapa senang melihat
bangunannya dimuliakan, derjatnya di tingkatkan , maka hendaklah dia
mengampuni orang yang bersalah kepadanya, dan menyambung (menghubungi)
orang yang pernah memutuskan hubungannya dengan dia “ (HR Al-Hakim)
“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara
panggilan, “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama
manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan
menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk
masuk surga.” (HR Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)
Fudail bin Iyad berkata : “Jiwa kesatria
ialah memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”
Sementara itu, kalau ia belum mau taubat dan
minta maaf, maka doakanlah agar suatu saat dia menyadari akan kesalahan yang
dia lakukan dan bertaubat atasnya,Kalau kita tidak mau memafkannya sama artinya
kita membiarkannya menanggung dosa dan berjalan menuju ke
neraka. Jika demikian alangkah naifnya kelak kita di hadapan Allah.
Janganlah kita bersikukuh untuk enggan
memaafkan orang lain, karena akan menyebabkan dosa kita tidak pernah diampuni
oleh Nya. Bukankah ini merupakan kerugian besar yang menimpa seseorang?!
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang
dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha
pengampun lagi maha penyayang”. (QS An-Nuur :22)
“Barangsiapa yang tidak mau memberi
ampun kepada orang, maka ia tidak akan di beri ampun “ (HR Ahmad dari
Jabir bin Abdullah Ra)
Mari kita belajar dari sifat pemaaf Allah
kepada para hamba Nya yang telah membunuh para wali-NYA. Sifat
pemaaf Rasulullah pada umat yang menyakitinya. Teladan para sahabat RA
yang mau berlapang dada kepada saudaranya yang telah menyinggung
perasaannya.
Ucapkanlah ucapan kasih sayang padanya
:
“Pada hari ini tidak ada cercaan kepada kamu
, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) ,dan DIA adalah Maha Penyayang diantara
Penyayang.” ( QS Yusuf ;92)
Inilah ucapan Nabi Yusuf AS kepada
saudaranya, ketika mereka minta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan di masa
lalu
Tapi
mereka itu para ahli agama dan para ahli tafsir agama, tak bergeming untuk
memaafkan Ahok. Bahkan dengan lantangnya
dikumandangkan kata-kata “Ganyang Ahok, Penjarakan Ahok, Bunuh Ahok”
Dan mereka para “Ulama” membawa kemarahan dalam bentuk Aksi Demo, Demo Bela Islam jilid I dan yang baru saja terjadi Demo Bela Islam jilid II 4 Nivember 2016 dan akan dilanjutkan dengan Demo Bela Islam jilid III nanti pada 25 November 2016.
Kini kasus dugaan
Penistaan Ahok sedang diproses oleh aparat penegak hukum kita, tentu dengan
polemik [ula, digelar perkara terbuka salah, tertutup salah.
Dan tuntutan para “Ulama” itu, Ahok harus salah dan dipenjara. (Sehingga gagal maju di Pilkada?)
Bahkan yang lebih aneh lagi, tuntutannya melebar ke Bpk. Jokowi untuk turun dari jabatan Presiden RI. Bahkan para alim Ulama yang ingin menjernihkan suasana dianggap Ulama yang sesat dan sakit Iman.
Saya kira bangsa kita sedang sakit Mental.
Semoga kita bisa mawas diri, bahwa segala yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah semata, kita meyakin Qodho dan Qodar Nya. Segala sesuatu ada hikmahnya.
Dan tuntutan para “Ulama” itu, Ahok harus salah dan dipenjara. (Sehingga gagal maju di Pilkada?)
Bahkan yang lebih aneh lagi, tuntutannya melebar ke Bpk. Jokowi untuk turun dari jabatan Presiden RI. Bahkan para alim Ulama yang ingin menjernihkan suasana dianggap Ulama yang sesat dan sakit Iman.
Saya kira bangsa kita sedang sakit Mental.
Semoga kita bisa mawas diri, bahwa segala yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah semata, kita meyakin Qodho dan Qodar Nya. Segala sesuatu ada hikmahnya.
Semoga
para alim Ulama yang sesungguhnya yang dihujat dan dinista karena meluruskan
sesuatu yang dianggap salah Allah memberi barokah dan limpahan Rahmat.
Semoga kita tidak tergolong kaum yang buruk, Ummat yang Su’ dimata Allah, meskipun dipandang buruk oleh para pendengki.
Kiranya demikian apa yang saya rasakan sebagai anak bangsa yang tidak ingin Negeri nya selalu gaduh dan ditunggangi berbagai kepentingan politik.
Wallahu a’lam bishowab
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh
Jakarta, 9 Nov 2016
Nano Setiyono (Ketua
Fikiran Kerukunan Raudhatul Islam Jakarta)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar